Monday, March 16, 2009

Pengalaman test iBT TOEFL

I believe this posting will be useful for those who want to take iBT TOEFL... And since you want to take iBT TOEFL, I assume that you already overloaded, loathe/sick with all the iBT TOEFL English materials. So, I'm not going to make vomit in front of computer. I will make it easier by writing it in Bahasa.

Pertama, kenapa orang repot-repot ambil iBT TOEFL dan rela ngeluarin duit $150 (mana dolar naek terus lagi) lalu sampe di ruang test, mereka di-plokoto, mesti melototin monitor dengan headset terpasang lalu disiksa ngerjakan soal2 yang jelas2 bukan bahasanya sendiri selama 3.5 jam non-stop dengan resiko kencing batu karena nahan pipis?

Motivasi orang beda2. Ada yang rencana mau sekolah di luar, dan sekolanya mensyaratkan nilai TOEFL-nya sekian ratus. Tapi sekolah itu nggak mau TOEFL yang TOEFL-TOEFLan, maunya TOEFL yang asli, yang namanya iBT ato internet Based TOEFL. Jadi dia terpaksa mau disiksa di ruang test iBT TOEFL. Kalo saya, laen lagi. Demi mengajukan aplikasi beasiswa AMINEF Fulbright, maka saya nekat ngambil iBT TOEFL yang harganya $150 ini. Ya... kalo saya dapet beasiswa Fulbright nantinya, total uang yang saya dapetkan kira2 $30.000 (nggak cash ya, dalem bentuk biaya studi, biaya hidup, uang saku, dll). Demi $30.000, apalah artinya $150. Masuk akal kan?

Kedua, gimana sistem score iBT TOEFL?

Skor maksimal adalah 120, yang dibagi jadi 4 bagian, yaitu reading (30), listening (30), speaking (30) dan writing (30)... universitas di Australia biasanya mensyaratkan minimal 79, sementara universitas2 di Amrik mensyaratkan minimal 100 (buset!).

Ketiga, ujiannya kayak apa?

Ujiannya 4 macem, pertama reading. Ada 6 bacaan dengan topik beda2. Bisa dari bidang sosial, kesehatan, teknik, seni, geografi, atau bidang studi apapunyang yang dipelajari manusia. Dari bacaan itu, kita disuruh jawab kira2 35 pertanyaan multiple choice.

Kedua adalah listening. Ada beberapa sesi, ada yang baca teks dulu, lalu dengerin lecturing baru jawab soal2, ada yang dengerin percakapan 2 pelajar tentang topik tertentu, ada yang murni dengerkan lecturing baru jawab pertanyaan. Listening ini yang menurut saya paling gampang dilatih. Medianya ada di mana2. Mulai dari film, musik, dengerin orang bule ngomong ato nonton berita di TV. Pengalaman saya, dengar 1 jam conversation setiap hari selama 2 bulan bakalan bikin peka di listening. It won't be hard, but needs practice.

Ketiga ini yang bikin amsiong. Speaking! Disuruh ngomong dengan topik yang nggak diduga (suara kita direkam). Waktu berpikirnya cuman 15-30 detik. Contoh: "Describe the place you want to visit in your hometown, and explain why!", coba kalian siapkan jawaban selama 15 detik, terus ngomong selama 45 detik (nggak lebih). Ato dengerin lecturing selama 2-3 menit, terus harus men-summary tentang apa lecturing-nya dalam waktu 60 detik doang, (kemaren saya dapet topik lecturing tentang kelelawar, keren to?... Saya nyaris mau summary film Batman terbaru, The Dark Night, tapi mengingat pertaruhan $150, saya batalkan).

Keempat... adalah writing. Nulis tentang 2 topik, satu adalah personal opinion dan satu lagi ada bacaan dan lecturing, lalu suruh nyari hubungan antara bacaan dan lecturing-nya, terus di-summary-kan.

Kira2 begitu. Jujur, saya ngerasa rada2 nggak pede bisa dapetin score 100. Reading-nya agak gelap, di sesi speaking-nya saya ngerasa lebih banyak ngeluarin energi buat ngatasi nervousnya ketimbang ngomong apa yang dimaui. Listening-nya agak terang, walopun ada beberapa yang missed. Yang paling terang benderang adalah writing, moga2 bisa full score di sini. Kalo ada kesempatan ngulang iBT TOEFL ini, pasti i can handle the nervous much better, and achieve higher score.

Oke anyone, sapa mau sponsori saya ngambil iBT TOEFL lagi...? (Kalo saya bisa tembus score 90 dan dapet beasiswa, ntar saya kembalikan 2x lipat - cash in US$, seriously loo... I'll do my best both in the test and scholarship application).

7 comments:

  1. @nadiah: 22+22+22+24 (R/S/W/L)

    ReplyDelete
  2. Thanks for this sharing of your experience! Semoga murid-murid saya nanti cukup tabah menghadapi TOEFL iBT, dan cukup kuat menahan supaya tidak kencing batu, ha ha ha! :)

    Patrisius

    ReplyDelete
  3. wah... ternyata iBT lebih sulit dari PBT jadi belum tentu orang yang dapat TOEFL PBT 577 bisa dapat TOEFL iBT 90.

    ReplyDelete
  4. segitu susah y ya ikut toefl IBT???

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Halo Kak, terimakasih atas sharingnya.

    Kalau boleh berbagi info, untuk rekan-rekan lainnya yang mungkin berminat: teman-teman bisa berlatih menghadapi TOEFL iBT dengan cara mengikuti tes prediksi / simulasi / try-out TOEFL online di ProfTOEFL.

    Karena tes iBT resmi sangat mahal, untuk mempersiapkan diri sebaiknya ambil tes prediksi TOEFL iBT dulu. Sesuai tes yang asli, tes tryout ini internet-based, pakai timer, dan dibuat serta dinilai oleh native speaker. Harga tes tryout ini juga sangat terjangkau.

    Untuk info lengkap, bisa klik disini: http://proftoefl.com/daftar-tryout-tes-toefl-online

    Semoga membantu teman-teman untuk meraih skor TOEFL iBT yang bagus :)

    ReplyDelete